Surat Untuk Mamak

Dear: mamakku di kampung

Assalamualaikum mak.

surat rindu untuk mamakSurat ini kutulis bukan untuk kukirimkan ke mamak dengan amplop putih seperti yang biasa kukirimkan, dan juga tak seperti SMS yang biasa aku kirimkan dulu, tapi kali ini lain. aku menulis tulisan ini karena aku begitu merindukanmu mak, jaringan telkomselpun begitu susah didapatkan disana sehingga membuat rasa rindu ini makin membundal dihatiku. mudah mudahan surat yang kutulis disini bisa mewakili rasa rinduku yang tak terbendung lagi selama ini.

Mak, tadi pagi aku bangun sekitar jam tujuh, entah kenapa aku tak ingat subuh pagi ini, aku lihat jam tanganku ternyata sudah pagi dan akupun berlari menuju tempat wuduk berharap aku tidak meninggalkan subuh kali ini karena aku memang sungguh sungguh tidak terbangun pagi ini, sudah tiga kali aku tidak terbangun subuh mak dalam tiga bulan terakhir ini, aku terpikir jika sekirannya mamak ada disampingku saat itu, sudah pastilah aku mendengarkan nasehat mamak yang jarang sekali mamak berikan kepada kami, anak anak mamak, sehingga terkadang kami rindu akan nasehat itu mak. Dan begitu juga pagi ini, aku ingin sekali mendengar nasehat mamak yang selalu menyejukkan hatiku mesti nasehat itu tak puitis dan menarik seperti kata-kata motifator-motifator ternama. Aku ingat ketika di kampung aku terbangun jam 7 pagi mamak menyuruhku shalat secepat mungkin dan setelah itu mamak bilang

“nak, kenapa ga terbangun?”

Pertanyaan itu yang kurindukan mak, aku rindu sekali.

Aku ingin sekali membantu mamak mengerjakan pekerjaan mamak dikebun, memberi pupuk organik kol yang mamak tanam, mengikat lembu dan kerbau di padang yang berumput hijau dan membawannya kembali disore hari, dan membersihkan rumah. ingin sekali kukerjakan semua itu mak. Tapi ada satu hal yang selalu ingin kulakukan berasama mamak, yaitu bercerita dengan mamak tentang kuliahku dan teman teman kuliahku ketika mamak sedang  memasak makan malam di dapur. meski cuman beberapa menit, namun itu sangat berarti bagiku mak.

Disini tak ada nasehat lagi mak! yang ada hanya pikiran kita dan hati yang mampu menasehati kita sendiri. Sama seperti yang mamak ceritakan dulu sebelum aku pergi kuliah.

“kehidupan real dan pesantren beda nak, pandai pandailah memilih”

Singkat memang nasehatmu, dulu aku rasa tak berguna tapi sekarang semua terbukti. Mamak, aku rindu nasehatmu lagi.

salam rinduku dari anakmu

Mulyadi

coretan. Selasa 17 Jan 2012  20:52WIB

2 thoughts on “Surat Untuk Mamak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s