Orang tua dan Ubi Jalar

Malam ini aku ingin menuliskan sebuah cerita betapa besarnya jiwa orang tua terhadap anaknya. ini adalah pengalam pribadi yang baru saja aku alami tadi pagi, sebagai seorang anak, cerita ini sangat berarti bagiku apalagi ini menyangkut kesetiaan orang tua terhadap anakknya.

Orang tua dan ubi jalar

ceritaku

Pagi ini giliranku untuk belanja kepasar dekat kontrakan kami, aku dan dua kawan yang lainnya memang sudah ada jadwal siapa yang belanja tiap minggunya, dan siapa yang masak untuk tiap malamnya. sering aku sudah belanja di tempat itu, tapi  baru kali ini aku memperhatikan seseorang ibu yang lusuh bajunya dan hitam pekat mukannya.

Aku berjalan mengikutinnya dari belakang, aku berhenti di toko dimana dia berhenti dan aku mulai pergi dari toko itu ketika dia juga pergi. Aku terus mengikutinnya dari awal ketemu sampai terakhir, aku terus berjalan dibelakang seolah olah sedang mencari seseuatu yang belum aku dapat sehingga dia tidak curiga,

Aku terus memperhatikannya karena dari pertama dia berbelanja dia belum membeli apa-apa padahal pasar tradisional itu lengkap menjual sayur mayur bahkan buah buahan.

toko pertama dia berhenti dan memegang sebuah ubi jalar. aku pikir dia akan beli ubi itu, tapi dia ternyata meletakkan kembali ubi itu dan pergi ketoko sebelahnya. Begitu juga selanjutnya, dia kembali memgang ubi jalar di toko kedua dan melihatnya dengan seksama, namun setelah beberapa menit dia meletakkan ubi itu kembali dan pindah ke toko selanjutnya. begitu seterusnya kejadian yang sama di toko yang berbeda beda. setelah melewati beberapa toko diapun duduk di halte yang ada di tengah pasar itu, begitu juga aku. akupun duduk disampingnya seolah olah aku juga mencari sesuatu namun belum dapat.

“nyari apa nak?” sapanya ramah

“nyari Terong dan Tempe buk!” jawabku sedikit gugup takut dia tau kalau dari tadi aku mengikutinnya.

“di toko tadi ada! kenapa ga beli?” tanyanya.

“kurang bagus tempe disitu buk!” jawabku agak lugas

“owh”

“ibu mang mau cari apa?” tanyaku kembali

“ibu mau cari sayur aja ni ni dah dapat” sambil menunjukkan seikat kacang panjang.

“owh tadi kenapa tidak jadi beli ubi jalarnya buk, tadi saya lihat ibu mau beli?” tanyaku memberanikan diri

“owh, itu…. sebetulnya suamiku suka kali dengan ubi jalar, jadi ibu pingin sekali membeli ubi itu” jawab ibu itu dengan sedikit agak merendahkan suarannya.

“jadi kenapa ga beli bu” tanyaku lagi.

“karena jika ibu beli, ibu takut nanti anak ibu yang sedang kuliah di Medan tidak dapat kiriman” jawab ibu itu.

hatiku sedikit terguncang, betapa ibu itu membendung keinginannya yang sangat dia inginkan hanya untuk si anak. aku sedikit terharu ketika ibu menjawab dan bercerita tentang anaknya. dia begitu bangga menceritakan anaknya yang kuliah di jurusan Kebidanan di Medan. saat itu aku berpikir apa si anak juga membendung sedikit kemauannya untuk bersenang senang karena memikirkan orang tuannya, atau anak sedikit tidaknya bangga ketika dia menceritakan tentang orang tuannya.

Begitu mulia hati orang tua yang membiarkan rasa “inginnya” tak terpenuhi karena memikirkan uang tambahan jajan anaknya yang sedang kuliah. aku tau bahwa semua orang tua begitu tapi aku yakin hanya sedikit anak yang memikirkan hal itu.

coretan. selasa, 25 Januari 2012
Banda Aceh, sudut kamar 00.32

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s