Lamunanku

lamunanMalam ini hujan dan dingin aku duduk diteras ditemani ribuan rintik hujan yang membasahi bumi, suasana malam semkin sunyi dan sepi dengan adannya suara jangkrik. sesekali kulihat jam tangganku, pukul 01.00 am tepat, mataku masih tak mengantuk, namun badanku semakin lemah dengan hawa dingin yang menusuk pori poriku, tak banyak yang kulakukan selain menikmati kehidupan malam yang sepi dan sunyi ini, rintik hujan semakin mereda, sekarang ada sedikit hembusan angin yang menggerakkan daun daun pohon didepan rumah. aku terhanyut dalam lamunan sendu, aku terbang kenegeri awang awang yang tak kukenali. dimana aku nanti akan tinggal disebuah rumah dengan seorang istri yang sholelah dan anak yang mungil dan menggemaskan. aku tidur di atas kasur springbed yang empuk dan dinding rumah yang dicat indah dengan warna dinding yang cerah, saat itu aku tidak akan merasaka dinginnya malam lagi ketika sudah berada didalam rumah, sang istri tak akan pernah kecewa karena tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, karena tentunya aku mampu memenuhinnya. anakku tak akan pernah kehabisan susu dan tak akan pernah menangis karena kekurangan gizi. namun seketika lamunanku buyar diterpa halilintar yang menambah keheningan malam, aku masih duduk diteras rumah, diatas kursi plastik berwarna biru. angin kembali bertiup perlahan, aku semakin menggigil dan merakasan dinginnya malam yang membuat lamunanku berubah seratus persen, kini aku tidur disebuah ranjang kayu dengan istri yang setia dan mampu menerimaku apa adannya, dinding papan tak sanggup menahan dan melindungi kami dari dingin dan sepinnya malam, istriku tak banyak meminta karena dia tau bahwa aku tidak mampu mewujudkannya, anakku tidak mendapatkan gizi yang cukup karena penghasilanku apa adannya. namun meskipun demikian kehidupan ini begitu hangat dirumah, istri yang sholehah akan selalu menemaniku dan menjadi satu satunya motifasi yang bisa memberikanku kekuatan untuk menajalani hidup kearah yang lebih baik. namun tiba tiba lamunanku hilang, hujan semakin deras diiringin denturan halilintar yang membuatku ketakutan, kilat yang menyambar dan dingin yang menyapa. aku takut, sungguh takut jika nantinnya orang yang menemani hidupku tak terima hidup pas pasan bersamaku, dinding papan yang bercat putih pudar, tirai jendela yang sudah tak pernah dicuci dan peralatan rumah tangga yang minim, istri tak pernah merasa bahagia hidup bersamaku dan anak tidak hanya mendapatkan gizi yang cukup namun juga tak mendapatkan ketentraman hidup.

Itulah lamunanku yang terimplikasi dari cita citaku, aku yakin tak ada orang yang ingin hidup sederhana, itu memang hanya sebuah cita cita. namun aku akan berusaha sekuat tenaga untuk meraih cita citaku.

“coratan senin, 13 Feb 2012”
Diruang tamu rumah kakek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s