Tangisan Wanita

Jumat 17 februari 2012

kulihat air matannya

air mata

Hari semakin mendung, angin mendadak bertiup keras, namun tetap saja hulu halang keretan dan mobil berpergian hilir mudik seperti tak menghiraukan isyarat bumi bahwa akan turun hujan yang lebat, anak anak berlari kesana kemari bermain dengan riangnya, orang orang yang berjualan mencari nafkah dipinggiran jalan, namun ditengan sibuknya kehidupan manusia ada seorang gadis yang menagngis disutud kota, tak tau kenapa tapi yang jelas tangisan itu bisa menggambarkan penderitaanya yang tak bisa diembannya lagi. dari kejauhan kuperhatikan lekat lekat wajahnya aku sangat yakin kalo aku tidakk mengenalnya sama sekali. namun tangisannya begitu mengundang lara, kedua telapak tangganya menutup wajahnya namun segimanapun dia menutup wajahnya tetap saja air matannya bercucuran. kuamati sekalilagi wanita ini tapi tetap saja aku tidak mengenalinnya. hatiku begitu saja merasa iba akan tangisannya yang tak berirama, dia membuka tangannya, matannya merah tak karuan, air matannya tak hanya membasahi mata namun juga muka dan rambut indahnya, hujanpun turun dengan lebatnya aku berlari keseberang jalan untuk menghindar dadri hujan badai itu dari kejauhan aku tetap melihanya dalam keadaan sunyi

Sungguh aku ingin sekali menyapannya, meringankan bebannya dan menyelesaikan masalahnya serta membantunnya sebisa mungkin namun tentunnya aku tak bisa karena aku bukan siapa siapa baginya.
dan aku tau itu

salam
teriris duka dalam tangisannya
dari Mulyadi Syahputra

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s