Penjual Parfum di Mesjid Raya

mesjid raya

*bukan foto asli*

Empat hari yang lalu aku bertemu dengan salah seorang penjual parfum di sekitar mesjid raya Baiturrahman Banda Aceh, penjual ini tampak begitu lemah, dia berjalan lalu lalang disekitaran mesjid dengan menggunakan sandal jepit warna hijau yang sudah menipis bahkan sandal ini tak mampu melindunginnya dari paku payung kecil, bajunya yang lusuh membuat hati setiap orang yang melihatnya iba, giginya yang sudah ompong terlihat jelas ketika aku menemuinnya dan menebar senyum dengan hangatnya diapun tampa pikir panjang membalas senyumanku dengan senyuman yang indah.

10 buah parfum kecil harga sepuluh ribu dia bawa kesana kesini dengan teriakan kecil yang hanya bisa didengar oleh orang dengan jarang 2 meter darinya “parfum2, dik, blo parfum dik!” bahasa acehnya lancara dan aku yakin dia asli penduduk aceh.

Aku terus mengawasi sang kakek dengan penuh rasa iba dan prihatin namun sekian lama sudah kuperhatikan dia tetap saja tak ada seorang pun yang membeli parfumnya, namun tak sedikitpun rasa lelah yang ia tampakkan dari pancaran wajahnya meski dagangannya tidak bisa dibilang cukup untuk kehidupannya.

Dia terus mengitari mesjid raya seperti orang yang sedang tawaf ke arah kiri, aku mengikutinnya secara diam diam dari belakang berharap dia tidak curiga terhadapku. aku melihat dia berhenti sambilan berteduh di bawah pohon kurma di sisi kiri mesjid raya, seccara sigap aku seolah olah juga berhenti melihat lihat kantor perpustakaan mesjid raya. aku lirik dia sedang mengusapkan keringat yang membasahi kulit keringnya dengan sapu tangan kuning kehitam hitaman yang sudah usang.

Setelah shalat magrib aku memberanikan diri menyapanya, mungkin saja dia sudah tau bahwa dari zuhur aku sudah memperhatikannya.

“Assalamualaikum pak!”

“Walaikum salam neuk, mau blo parfum neuk?”

“jeut pak, saboh ciet!”

Dia tau bahasa acehku amburadul, seketika itu juga dia merubah bahasannya

“Parfum yang mana nak?”

“yang bau ‘Kuba’ ada pak?”

“ada!” jawabnya lugas

Kuserahkan uang sepuluh ribu kepada bapak ini karena setiap toko memang menjual parfum non alkohol itu seharga sepuluh ribu, bahkan ada toko yang berani menjual seharga lima belas ribu. namun aku terkaget dan sembari terharu. sang kakek menyerahkan uang 3 ribu rupiah ketanganku. aku bertanya berapa memang harga parfum itu, dia tak menjawab banyak dia hanya mengancungkan 7 jari menunjukkan bahwa harga parfum itu 7 ribu rupiah. aku terharu, karena aku tau harga grosiran saja parfum itu 7 ribu bagaimana mungkin bapak ini berjualan sepuluh parfum seharian dan hanya laku satu yaitu yang aku beli namun masih tetap menjual parfum ini seharga grosiran.

Aku menyerahkan beberapa rupiah uang dari saku ku kepada bapak ini, mudah mudahan ini bisa membantu walau hanya untuk sekali makan saja. dia bersyukur kepada allah dan mendoakanku berkali kali. aku baru sadar betapa dia begitu bersyukur hanya mendapatkan beberapa puluh ribu saja dia sudah begitu mengagungkan allah, namun kita terkadang mendapatkan gaji, kiriman, dan lain lain dengan jumlah ratusan bahkan jutaan lupa untuk bersukur.

Aku berpamitan kepada bapak penjual parfum itu, dan dia tersenyum lebar dan bertanya tempat tinggalku. sepintas itu aku menyempatkan diri bertanya tentang keluarga bapak itu. dia tersenyum dan menjawab dengan tegarnya.

“ka meninggai neuk bak tsunami!”

Hatiku begitu iba mendengarnya, dia bertahan hidup tampa mau mengemis meskipun pekerjaannya tidak bisa dibilang layak untuk menghidupi dirinya sendiri.

Coretan.
di Mesjid Raya
sambil mencari cari sosok penjual parfum ini yang sudah tidak tampak lagi
Kamis, 19 April 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s