Happy Anniversary 619, Blue Generations

ImageSedikit kaget dengan isi pesan di kotak masuk handphone pagi hari ketika ingin berangkat kuliah dan isinya sebuah ucapan selamat. Kurang lebih seperti ini isinya “Happy Anniversary”. Dengan mengerutkan dahi sedikit dan berpikir sejenak, siapa yang ulang tahun? Ternyata ini adalah tanggal dimana dua tahun silam menjadi salah satu sejarah hidup.

Ya sejarah, sejarah yang terukir manis karena dua tahun silam diri ini dan 233 orang mengikuti yudisium dan haflah ikhtitam kelas akhir di salah satu lembaga pendidikan islam terkemuka di Medan. Lembaga yang dengan sangat hanif mengajarkan tuntunan berkehidupan bermasyarakat dan bersikap. Lembaga yang dengan sangat ikhlas mendidik putra-putrinya untuk “membesarkan” dirinya dengan nafas Islam. Lembaga yang pastinya akan selalu terukir di salah satu bilik hati setiap insan yang pernah mengenyam hidup di dalamnya.

Raudhatul Hasanah namanya, dan Taman Bahagia artinya. Ya taman yang diindikasikan sebagai oase polusi di tengah kebingaran kehidupan metropolis. Bahagia karena ia akan selalu menjadi saksi bisu atas kebahagiaan insan yang bermadu cinta dengan keluarga dan orang tua (tidak untuk pacaran hehe) dan kerabat yang tersayang. Saksi bisu atas seutas tawa dan untaian senyuman yang tersungging di setiap bibir dan wajah manusia. Dengan kesegarannya taman selalu menjadi pelengkap kebahagiaan. Begitulah saya menafsirkan makna dari nama tersebut, karena menurut saya itulah alasan nama itu dipilih sebagai nama lembaga pendidikan ini.

Masih segar ingatan ini akan pagi dimana kamar-kamar berantakan dan penuh akan kotak kardus dan tumpukan baju-baju yang disisihkan untuk diinventariskan (bahasa yang digunakan untuk mewakili kegiatan memberi barang sebagai kenang-kenangan kepada adik kelas) kepada siapapun yang dirasa pantas mendapatkannya atau hanya sekedar menyenangkan mereka saja. Dan tradisi ini akan terus berlangsung sampai kapanpun.

Selain itu koper-koper berisi baju yang siap dibawa pulang juga telah siap disisihkan. Beberapa agenda alumni masih ada yang bergeletakan harum parfum dan canda-candaan ringan tercipta natural, ada yang duduk-duduk bahagia dengan jas biru dongkar (atau apapaun warnanya karena saya tidak begitu mengenal warna) dan kopiah yang gagah diletakkan di atas kepala. Ada juga yang berdiri di depan cermin dengan seutas senyuman bangga, ada yang masih berlari-lari dari kamar mandi dengan membawa handuk dan ember kecil untuk keperluan mandi (tapi yang ini jarang sekali). Dan lonceng makan terdengar berkali-kali. Ah perih hati ini, kenangan itu musnah sudah. .

Langkah-langkah gagah para siswa-siswi akhir mantap berjalan dengan sepatu haibah (istilah sepatu pantofel karena haibah itu berarti wibawa dan mereka yang memakainya akan kelihatan berwibawa jika memakainya) beriringan menuju dapur. Langkah yang sangat menawan karena iramanya santai dan sangat kompak, bukan langkah-langkah cepat berjalan atau berlari kecil karena terlambat masuk kelas atau ke dapur. Dan inilah sesi makan terakhir di dapur yang panjang dan luas ini. Dapur yang juga menjadi saksi atas luapnya para santri melahap hidangan setelah kelaparan.

Keharuanpun merebak sangat saat MC acara memanggil dengan bahasanya para wisudawan dan wisudawati untuk memasuki hall acara. Dengan beribu pasang mata yang memandang dan riuh redam suara tepukan tangan yang membahana membuat bulu kuduk para kesatria biru naik. Ya inilah saatnya, saat dimana kemenangan setelah sekian lama hidup di atas awasan, bimbingan dan tekanan (bagi yang merasakan) dari para pendidik dan para senior. Puas atas keberhasilan menjadi alumni yang akan diwisuda beberapa waktu lagi. Puas atas terselesainya ujian yang menceka. .

Tulisan inipun dibuat dengan sedikit tetesan air mata yang mewakili rasa hati akan kerinduan pada saat itu, pada saat-saat dimana kita bisa tertawa bersama. Kita bisa melaksanakan segalanya dengan bersama-sama, kita pernah merasakan saat cemas pada pagelaran seni kita, kepanitiaan kita, pertanggung jawaban kita karena itu semua mempertaruhkan nama besar marhalah kita. Berlari menghindar dari teriakan qismul amn atau KMI di pagi hari dan pada moment-moment lainnya.

Kawan, masih adakah ingatan itu? Masih adakah ruang untuk kau tempatkan kebersamaan ini, ruang untuk menceritakan rangkulan hangat terakhir di masjid sore it? Tetesan air mata yang terjatuh di salah satu jas kita atau baju apapun yang kau kenakan sore itu, sore yang paling sendu dan penuh khidmat itu? Masih adakah ruang untuk mengingat persis saat-saat ini?

Bagaimanapun juga kita sudah menjadi keluarga, dan keluarga yang baik akan selalu berusaha memperbaiki keluarga lainnya. Yuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Apa saja yang sudah kau lakukan dua tahun terakhir ini? Masa depan masih panjang kawan, siapkanlah senyuman dan kegiranganmu untuk masa depan cerah nan indah di dunia dan akhirat kita. Hidup butuh perjuangan dan jadilah kader raudhah yang lebih mendunia. Kader Islam yang terus menjunjung nilainya dan menjadi prajurit Alloh untuk menang pada kebathilan. . . Barakallah saudaraku semoga kita masih diberikan umur panjang untuk melanjutkan hari-hari penuh perjuangan di masa mendatang.

*Sapaan penulis

Dalam dekapan ukhuwah
Saudaramu,

M. Nurul Hamdi
Malang, 30 Mei 2012

NB. Selamat ya buat Santo yang sudah menjadi calon bapak. Semoga kita bisa menyusul ya. Hehe Barakallahu laka wa baraka ‘alaika wa jama’a bainakuma fi khoir. Semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. amin

One thought on “Happy Anniversary 619, Blue Generations

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s