Skenario Allah swt

nail1Setelah sekian lama aku tidak menuliskan kata-kata sebagai gambaran hatiku, sekarang aku memulainya dengan tulisan ini. Mungkin orang banyak yang menganggap bahwa cerita mereka adalah cerita yang paling sedih sejagad raya. Begitu juga aku, aku merasa akulah orang yang diberikan cerita hidup yang cukup memilukan dan sedih untuk diceritakan kedunia. Namun pada hakikatnya, Allah swt sudah menyusun seluruh scenario dari setiap manusia sesuai batas kemampuannya sehingga setiap cobaan yang diberikan serasa diluar kemampuan.

Cerita ini adalah cerita yang sudah lama ingin aku ungkapkan kepada orang-orang yang ada didalam cerita ini, namun setiap kali lidah ingin mengucapkan huruf yang sudah dirangkai oleh hati kepada mereka, setiap kali itu pula keberanian surut sehingga rangkaian kata luapan hati itupun sirna seketika.

Sejak dulu aku selalu merasa sendiri, meskipun ditengah keluarga yang sangat menyayangiku. Aku merasa seperti hidup dikehidupan orang lain sehingga terasa jasad ini bukanlah tempat yang pas untuk ruh ini. Sering aku menangis dalam hati, karena memang menangis dengan mengeluarkan air mata bukanlah salah satu jalan bagi seorang laki-laki sepertiku, namun apapun yang terjadi kehidupan ini serasa melatih hati untuk bisa melantunkan senandung pilu.

Aku selalu mengingat cerita nenek yang selalu menceritakan kepadaku sebuah cerita pilu sehingga aku melihat air matannya yang sesekali membasahi bantal tidur nenek disaat dia bercerita kepadaku tentang sebuah cerita. Nenek berkata bahwa dulu pernah ada seorang ayah yang baru menceraikan istrinnya diberikan hak asuh kepadannya namun dia tidak menerimanya dengan ancaman dia akan menelantarkan anak yang diberikan ini. Disaat itu meskipun aku masih berumur beberapa tahun, aku sudah bisa merasakan bagaimana rasannya seperti anak ini. Cerita ini diceritakan oleh nenek dengan penuh penghayatan, seolah-olah dia berada disana disaat sang ayah akan membuang anak yang diberikan kepadannya diatas kasur, disaat sang ayah dengan sengaja membuat si bayi menangis mengabaikannya. Semua terasa seperti nyata sehingga tak ayal lagi, akupun menangis.

Beberapa tahun kemudian aku mengetahui bahwa cerita itu adalah ceritaku. Hemmm terasa aneh rasanya jika pemeran utama sebuah film tidak mengerti alur cerita filmnya kembali. Tapi disaat itulah aku merasa seperti tak hidup sepenuhnya. Dalah hidupku aku selalu bertanya, kenapa mereka tidak menyukaiku disaat itu.

Beberapat ahun berlalu kini setelah aku mulai bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, mereka yang dulu membuangku kini mendatangiku dan menjengukku sesekali. Kakek dan nenekku sangat baik sehingga mereka tidak pernah tidak menerima mereka sebagai tamu dirumah itu. Mereka tetap bersikap hangat dan ramah meskipun aku tau betapa sedihnya mereka disaat aku dulu tidak diterima dikeluargaku sendiri.

Namun ini bukanlah saat yang tepat dimana mereka harus menghalangiku untuk mereka, namun akulah orang yang harus menghalanginya sendiri. Ketika mereka datang, aku berlari jauh sehingga mereka tidak bisa menyerahkan baju yang mereka beli untukku langsung kepadaku. Ketika mereka mendatangiku sekolah, aku bersembunyi ditumpukan batu bata sekolah sehingga tidak ada yang bisa menemukanku. Semua itu kulakukan karena aku tau, bahwa aku dulu tidak diiterima.

Seiring bertambah waktu, orang-orang sekarang membicarakanku. Mereka membicarakan betapa tidak berbaktinya aku kepada orang tuaku yang beberapa kali mencoba menemuiku. Namun aku tetap menutup telinga dari semua itu, aku bahkan hanya tersenyum sinis ketika mereka membicarakanku seraya berguman dalam hati “kalian tidak pernah menjadi aku” kalimat itu yang selalu terusik dihati kecilku disaat orang-orang bercerita tentangku.

Bahkan suatu saat kakek orang yang paling kusayangi setelah ibuku meceritakan kepadaku betapa seorang anak harus berbuat baik kepada orang tuannya bagaimanapun dia dan siapapun dia. Disaat itu aku mulai belajar untuk tidak lari dari mereka.

Namun disaat semua itu berjalan, aku mulai menyadari betapa sakitnya hati orang-orang yang takut kehilanganku melihat sikapku. Sikap baik yang kutunjukan kepada mereka sebagai bukti bahwa aku bukanlah anak durhaka kini membuat ibuku orang yang paling kusayangin dan kujaga hatinnya menangis, dia merasa takut jika suatu saat aku meninggalkannya dengan alasan harta. Aku memeluknya sehingga aku merasakan air matannya menembus kain yang kukenakkan dan merasuk kekulitku. Aku menyadari betapa takutnya dia akan kehilanganku.

Coretan.Mulyadi Syahputra
dirumah. 13 Nov 2010
01.12 WIB
postingan terbaru

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s