Kesedihan seorang Ibu

KesedihanSetelah sekian lama aku meninggalkan blog ini, kini aku ingin memulai tulisanku. hari ini adalah hari dimana aku melewati hari-hariku dengan penuh semangat walaupan terkadang ditengah semangat yang membara itu terselip pancaran keletihan diwajah ini. sesekali aku menghirup nafas dalam-dalam seolah-olah ingin merasakan betapa indahnya hidup ini. aku kembali tersadar dari lamunanku disaat ada seorang ibu-ibu yang datang menghampiriku dan menyapaku didepan Komputer Rental itu.

“Nak, Tolong Kemaren Ibu buat ini disini, tapi masih banyak yang salah”

sapa ibu itu sambil menyerahkan sebuah ketikan silabus dan laporan tahunan yang diketik oleh salah seorang teknisi di toko itu. kemudian akupun mencoba memperbaiki ketikan yang salah itu. karena teknisi lain yang mengetik tulisan milik ibu ini, jadi butuh waktu agak lama untuk menemukan filenya.

Ditengah pencarian file itu, sang ibu dengan ramahnya bertanya kepadaku. dia bertanya kepadaku dengan begitu serius sehingga konsentrasiku buyar dan aku semakin merasa nyaman dengan cerita itu. 

Saat itu akupun mulai mendeskripsikan diriku. mulai dari kehidupanku, keluargaku dan tentang kuliahku, aku terus bercerita sambil tanganku tetap meneruskan tulisan yang disuruh ibu itu. aku tak menyadari kalau ibu itu menghapus air matanya. 

Setelah menyadari bahwa sang ibu menangis, akupun mulai bertanya kenapa dia menangis mendengar ceritaku. padahal aku tau ceritaku layaknya seperti cerita orang-orang lainnya.

Diapun memulai ceritanya. 

“Nak, engkau adalah cerminan anak saya 8 tahun yang lalu. dia begitu giat namun tetap bersahaja. hari itu dimana disaat saya melihatnya terakhir kali, dia berteriak kepada saya “mamaaaaaaaaaaaaaaaaaa..!!!!” dia begitu ketakutan saat itu. Saya yang begitu lemah ini tidak bisa melupakan raut wajahnya itu.” aku semakin terfokus kedalam alur cerita si ibu itu.

“Dia Begitu pintar merangkai kata-katanya, Dia dulu juara puisi di SMP nya. dan selalu saja setiap dia membuat puisinya, dia selalu saja mengharapkan komentar dari saya.” kulihat ibu menyapu air matanya. dia begitu serius menceritakan anaknya yang hilang ditelan oleh Gelombang Tsunami pada 8 Tahun yang lalu. namun tetap saja aku bertanya dalam hati, kenapa dia tiba-tiba saja mengingat anaknya disaat melihatku.tapi tanpa sempat aku bertanya diapun sudah menjelaskan kepadaku.

“Disaat saya melihatmu nak, senyumnya lah yang tergambar dihadapan saya. Rambutnya persis sepertimu, sisirannya tak pernah berubah dari tahun ketahun. Dia seharusnya sudah sebesarmu hari ini. dulu dia bilang dia ingin jadi Guru seperti ibunya tapi dia tidak ingin menjadi guru Bahasa Indonesia seperti saya, katannya dia tidak ingin menyaingi ibunya ini. dia ingin menjadi Guru Bahasa Inggris, jika seandainya dia masih ada, tentunya dia sangat mirip sepertimu” kuperhatikan ibu itu terisak-isak melanjutkan ceritannya, kuambilkan tisu yang berada disamping kiriku, namun dia tak menghiraukanku. dia terus bercerita betapa dia sangat merindukan anak pertamanya itu. dai tak bisa membendung air matannya setelah mengetahui kalau aku juga adalah anak pertama dari 5 bersaudara. 

akhirnya si ibu berhasil membuatku meneteskan air mata disaat dia menunjukkan foto anaknya yang disimpan di Dompetnya saat itu. anak itu begitu mirip dengan ku 8 tahun yang lalu, hanya saja aku tampak lebih putih dulu. tapi jika aku disuruh menilai kemiripan kami, aku akan mengatakan bahwa kami 85 % mirip.

betapa kehilangannya ibu itu, sehingga dia masih mengingat wajah anaknya yang sudah tidak bersamannya selama 8 tahun. hati seorang ibu adalah hati orang yang paling dekat dengan hati anaknya. meskipun salah satu dari mereka sudah tidak ada lagi.

Setelah Pulang Kerja
09.00 PM
DiWarkopRIngRoad
kesedihan seorang ibu yang kehilangan anaknya

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s