National University Debating Championship (NUDC) 2014

ImageMomen ini sudah seminggu berlalu tapi saya baru bisa menuliskannya sekarang, yah maklumlah kan karena memang lumayan banyak yang harus saya urus untuk persiapan masa depan (cieeeeee,  masa depan). Malam ini akan kucoba memutar balik kilasan acara tersebut supaya dapat dimengerti dengan mudah.

Pada tanggal 21 Juni 2014 yang lalu, kami sedang berada di sebuah hotel untuk mengikuti sebuah perlombaan yang bergengsi antar universitas negeri dan swasta yang mereka sebut dengan Perlombaan Debat Bahasa Inggris antar PTN/PTS se Provinsi Aceh. Sebetulnya saya tidak mengerti dimana letak kata-kata “bergengsi” dari perlombaan ini. Mungkin karena diikuti oleh semua perguruan tinggi negeri dan swasta, atau karena pemenangnya akan diikut sertakan di perlombaan nasional yang belum pasti dimana tempatnya ah sudah lah karena saat itu adalah pertama kalinya kami mengikuti perlombaan ini. Jadi ga palah terlalu mikirin hal sedetil tadi.

Perwakilan dari kampus kami ada dua orang yang salah satunya adalah saya sendiri dan satu lagi adik leting yang bernama Muhammad Abrar, yang secara sepihak sering saya panggli Brar. Dia mahasiswa aktif di semester 6 saat ini. Wajahnya yang masuk katagori ganteng membuat dia mempunyai banyak penggemar-penggemar rahasia (ciee yang punya secret fans). Kembali ke Lapto!!, ini kok malah ngomongin si brar. Sebelum hari itu kami sudah persiapan selama kurang lebih tiga hari dengan limit waktu satu jam satu hari latihan yang masih masuk katagori Kurang latihan.

Singkat cerita keesokan harinya pada tanggal 22 juni 2014 kami bertanding melawan universitas Ubudiyah Indonesia dengan tema “Money is the most important thing in life”. Saat itu kami berada dalam sisi Opposition, saya sebagai Leader of Opposition dan si brar berada di posisi Deputy Leader of Opposition. Universitas Ubudiyah Indonesia yang sering dipanggil dengan UUI ini adalah lawan yang tangguh, bahasa mereka yang santun membuat argument mereka menjadi sangat kuat. Kosa kata yang memumpuni juga merupakan salah satu aspek yang saya kagumi dari mereka. Mereka tidak menggunakan kata-kata sulit, atau kata-kata yang sering dipakai oleh orang-orang expert. Tapi mereka menggunakan bahasa simple dengan ide yang sangat kuat. Setiap argument mereka berisi fakta yang ada disekiling kita. Jujur saja. Saat itu saya agak sedikit keringatan mendengar argument dari Prime Minister mereka. Tapi saya menerapkan ajaran dari miss Rahmi Fhona sebagai pembimbing kami “Stay cool even you are in a big trouble”.

Disesi kedua dihari selanjutnya setelah berhasil maju ke babak berikutnya. Kami dihadapkan dengan utusan Universitas Jabal Ghafur atau sering disingkat dengan UNIGA. Mereka berbicara layaknya orang inggris asli (kayak native gitu). Argument mereka memang agak sedikit ga masuk akal, tapi hebatnya mereka, ide yang menurut saya tidak terpikirkan itu menjadi kuat karena penggunaan bahasa mereka yang mereka gabungkan dengan kepercayaan orang-orang terhadap suatu fakta. Meskipun yang kita nyatakan sebuah fakta yang sudah jelas kebenarannya tapi mereka tetap bisa menyanggah menggunakan kebenaran yang ada dalam pikiran pendengar. Memang agak sedikit susah di descriptive kan tapi ketika anda mendengar argument mereka, anda akan dengan mudah dapat mengerti kenapa statemen mereka menjadi kuat. Ini merupakan lawan yang sangat tangguh. Namun tetap saja Doa kami dikabulkan, kami masuk ke Sesi Final.

Sesi ini kami berhadapan dengan Universitas Syiah Kuala, Universitas terbaik di aceh. Kehebatan mereka tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata mungkin bisa diungkapkan dengan huruf kali ya? Kalo ada angka dari satu sampai sepuluh maka mereka ada di angka sepuluh. Hal ini memang terkesan memuji mereka. Tapi memang itu faktanya, jadi mau gimana lagi. Speech mereka yang sangat bagus, argument mereka yang kuat, dan satu kelebihan mereka yang membuat kami harus puas dengan juara tiga saat itu, karena mereka mengetahui dengan detail kelemahan kami. Jadi pelajaran untuk peserta Debate competation jenis apapun, mengetahui kelemahan lawan itu sangat penting.

Disitulah akhir perjalanan kami. Tapi Alhamdulillah masih bisa lanjutkan perjuangan sebagai wakil aceh di kancah Nasional nanti. See you

MulyadiSyahputra
RumohKUphi
Ramadhan ke 3 30 Juni 2014

4 thoughts on “National University Debating Championship (NUDC) 2014

  1. Salam,
    Terima kasih sekali kemarin sudah “mampir” ke blog saya dan me-like salah satu tulisan saya di sana😀
    Dulu semasa SMA saya juga pernah jadi debater, diajari oleh kakak-kakak dari perguruan tinggi di kota saya. Dulu, jadi debater itu terasa sangat keren, mengingat bahasa Inggris di tempat kami adalah bahasa “sakral” yang tidak semua siswa bisa dengan cepat menguasainya hehe….

      • Saya dari Purbalingga, Jawa Tengah.
        Yah, bagaimana tidak “sakral”, dulu di sekolah saya, bahasa Inggris aktif hanya dikuasai oleh segelintir siswa. Sisanya, tidak tahu sejauh apa level pemahamannya hehe….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s