Nasehat dari Tukang Pangkas

menungguSiang ini aku mendapatkan banyak nasehat. Namun nasehat ini tidak aku dapat dari orang yang biasanya memberikan nasehat. Dia bukan guru, bukan ustad, bukan teman, dan juga bukan keluarga. Tapi dia begitu bersemangat memberikan nasehat yang menurut saya sendiri sangat bermanfaat. Orang yang memberikan nasehat itu hanyalah seorang Tukang Pangkas yang berlokasi di Simpang Surabaya.

Saat itu saya ingin memotong rambut, (ya iya lah masak maen bola ke tukang pangkas) dia bertanya saat itu, bagaimana rambut yang saya mau. Dan saya pun menjawab dengan sangat sederhana. “Rambut gaya Guru”. Diapun tersenyum dan bercerita dengan hangatnya. Entah dari mana awalnya sampai dia bisa memberikan aku banyak nasehat dengan gaya bicara yang sedikit aneh (Belum Pernah saya Dengar sebelumnya).

Malam ini saya ingin mencoba mengingat kembali beberapa point dari apa yang dia sampaikan. Sebetulnya yang dia sampaikan itu sangat banyak, namun hanya beberapa yang akan saya tuliskan disini mengingat malam pun sudah semakin larut dan kapasitas memori otak yang tidak optimal sehingga sulit mengingat keseluruhannya.

  1. Dek, Belajarlah ilmu Pembersihan Diri.

Saat itu ada sedikit kebingungan dalam kepalaku mendengar apa yang dia ucapkan. Karena menurut saya Pembersihan diri itu tidak ada ilmunya, cukup dengan hanya membeli sabun dan mandi. Walaupun makna abstak yang dia maksud maka yang hanya terlintas dalam benakku adalah Pembersihan diri dari Dosa yaitu Bertaubat. Namun diluar dugaanku saat itu, yang dia maksud dengan Pembersihan diri adalah Ibadah yang jangan pernah bolong sekalipun. “dek, disetiap awal ibadah yang dilakukan orang adalah awal pembersihannya” begitu utaranya.

  1. Dek, Kamu Masih Bodoh, Jangan Pikir kamu pintar.

Entah dari mana awal dari pembicaraan ini sampai keluar nasehat itu. Saya pun heran pada awalnya dengan apa yang dia ucapkan, bukan karena saya merasa pintar tapi karena saya sendiri masih bingung dengan maksud kata bodoh itu. “Kita Pintar dek bukan karena bisa mengelabui dan menipu orang lain untuk keuntungan kita, tapi kita pintar dek karena kita tau tujuan kita di dunia ini untuk apa” begitu katannya memberikan penjelasan singkat. Ada betulnya apa yang dia sampaikan. Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan ilmu dunia sehingga kita lupa bahwa hal yang paling penting kita ketahui dan amalkan adalah “APA TUJUAN KITA DI BUMI INI”.

  1. Dek, Menikahlah dan Miliki anak sebanyak-banyaknya.

Agak terlalu dini nasehat ini dia utarakan, tapi ini bukan masalah karena hanya sekedar pengetahuan. Kata beliau jika kita mengikuti titah pemimpin yang membatasi kelahiran anak, maka kita yang rugi. “Lho, Kok Bisa?” itu ekspresi dan responku saat itu. “ia bisa. Motonya bukan banyak anak banyak rejeki, tapi banyak anak banyak yang mendoakan kita. Kalo untuk memberikan anak rejeki, itu bukan tugas kita. Tugas kita hanya berusaha”. Terasa masuk akal ucapannya berulang kali katakan bahwa anak adalah kunci kita ke Surga. “itu kan jika anaknya baik, kalau ga gimana?” aku mencoba menyangkal. “Tidak ada anak yang tidak baik dek. Jangan salah kamu!. Tergantung kitanya bagaimana mendidiknya.” Dia memberikanku contoh simpel tentang mendidik anak. “Anak akan suka berkelahi kalau kita ajarkan memukul orang, kalau ga diajarkan ya ga mukul dek!”.  Hemmm saat itu aku sadar kalau otak ku suka contoh-contoh yang simpel saja. Hehe (LOLA)

  1. Dek, di dunia ini hanya ada dua, tidak ada yang lain. Yaitu Beribadah dan berusaha.

“usaha hanya bagian kecil aja dek, yang besar itu adalah Ibadah” betul juga yang dia katakan, karena pada akhirnya berusaha dan mencari nafkah juga masuk katagori ibadah kan. “Allah suruh kita hanya dua, Beribadah dan berusaha. Ga ada kan Dek Allah suruh kita Kaya?”. Sudah selayaknya memang kita tidak mengerjar kekayaan, kita hanya fokus sama beribadah dan berusaha untuk mencukupi kebutuhan bukan kaya meskipun menjadi kaya bukanlah sesuatu yang dilarang. Inti yang dia katakan mungkin adalah. Harta itu penting untuk memenuhi keperluan kita. “Uang hanya sarana tukar menukar dek, ga bisa tukaran barang atau jasa kalau ga ada uang dik” berulang kali dia utarakan kata-kata itu sampai sedikit muak telinga ini mendengarkan.

Saat itu cukuranku hampir selesai dan itu artinya sesi Pangkas memangkas sudah berada di akhir pertemuan (heheh agak lebai). Namun kemudian dia memegang pundakku sambil dia pijit layaknya Pemangkas yang lainnya, bedanya hanya kali ini sambil bilang seperti yang dibawah ini.

  1. Dek, jangan main-main beribadah, Pundak kita ini adalah titian yang akan dilangkahi anak istri kita di neraka.

Agak berdecak kagum mendengar kata-kata itu. Karena rasanya itu terlalu puitis untuk standart Tukang Pangkas. Namun itu sangat benar adanya. Jika kita masih meremehkan ibadah bagaimana kita bisa memperbaiki ibadah anak istri dan saudara-saudara kita. Jika kita masih melum bisa meluruskan diri kita bagaimana kita bisa menjadi pemimpin dan bagaimana bisa pundak kita menjadi jembatan mereka melewati neraka.

Hanya itu yang saya ingat apa yang dia katakan. Tak nyangka banyak pengetahuan dan ilmu yang saya dapat dari seorang yang tidak disangka-sangka.

Sabtu, 12- September-2014
RumohKuphi | Banda Aceh
bersama Edi, Nunggu di Tele

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s