Guru Salahkan Jawaban Matematika Siswa. Ini Pandangan Saya

heboh-guru-sd-beri-nilai-20-meski-jawaban-pr-benar-ZHFAkhir-akhir ini sedang heboh sebuah berita tentang seorang guru yang memberikan nilai muridnya dengan nilai dua padahal jawaban yang anak murid berikan sejatinya menurut masyarakat tidaklah salah. “Heboh guru beri nilai 20 meski jawaban anak muridnya benar” yah begitu kira-kira judul berita yang akan kita baca jika kita search di Google. Masyakarat berpendapat guru itu adalah guru yang bodoh dan tidak tau matematika sama sekali, bahkan sampai-sampai dua profesor juga ikut meneliti  permasalahan ini.

Permasalahanya adalah guru memberikan soal matematika ini
4+4+4+4+4+4=……..x…….=
pada saat itu anak murid yang dipanggil Habibi tersebut menjawab seperti ini
4+4+4+4+4+4=6×4=24
namun guru menyalahkan nilai Habibi tersebut karena jawaban yang tepat menurut sang guru adalah
4+4+4+4+4+4=4×6=24

Photo PR si Habibi kemudia di upload ke media sosial dan akhirnya jadi tren hangat di media sosial sehingga sekarang menteri pendidikan sendiri menghimbau Dinas Daerah untuk menegur guru tersebut. Banyak pendapat yang sudah diberikan oleh para ahli, ilmuan, mahasiswa teknik, dll. Tapi kali ini izinkan saya menerangkan sudut pandang guru terhadap permasalahan ini. Saya tidak mengatakan pendapat saya benar sehingga menyudutkan pendapat yang lain. Ini hanya opini saya dengan landasan pemikiran saya sendiri.

Bagi saya guru tidak lah salah dalam hal ini. Karena yang diperlukan dari pembelajaran itu adalah prosesnya. Dalam hal ini guru tidak melihat hasilnya namun beliau hanya ingin melihat proses untuk mendapatkan hasilnya. Si Habibi menjawab 6×4 bukan karena dia tidak tau namun karena dia sudah selangkah lebih dari yang diharapkan oleh guru tersebut. Yang guru harapkan adalah proses yang dilakukan sama seperti yang diajarkan bukan hanya kebenaran hasilnya. Karena jika hanya fokus kepada hasilnya maka tidak usah kita memberikan jalan untuk mencari hasil dari perkalian itu tapi cukup hanya dengan menyuruh anak-anak menghafal seperti metode pembelajaran matematika zaman saya dulu.

Namun meskipun demikian yang menurut saya perlu di instrospeksi diri dari guru tersebut adalah. Seorang guru seharusnya menunjukkan kepada siswa apa yang benar dan kenapa itu benar dalam memberikan nilai. Bukan hanya dengan membenarkan dan mensalahkan sesuatu tanpa alasan yang diutarakan kepada murid itu sendiri.

Efek negatif yang akan dari timbul dari ini adalah anak murid akan mengira jawabannya salah sehingga dia akan berpikir dengan cara yang salah dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Kesalahan guru bukan karena menyalahkan jawaban tersebut tapi kesalahannya adalah karena beliau tidak menerangkan secara jelas kenapa hal itu salah.

Jika permasalahan ini dikaji dengan ilmu teknik, ilmu kedokteran, ilmu matematika sendiri maka guru akan dianggap salah dan bodoh. Namun jika dilihat dari sudut pandang ilmu keguruan maka si guru tidaklah salah melainkan hanya dia kurang dalam memberi alasan kepada anak muridnya kenapa dan bagaimana hal itu bisa salah. Itu saja.

Itu pandangan seorang guru. Dan saya rasa semua guru yang pernah mengecap ilmu keguruan akan berpikir saja dengan saya tentang hal ini. Setiap orang bebas mengungkapkan ekspresi dan tanggapan terhadap berita ini dan itu tidak salah. Karena setiap orang ingin yang terbaik untuk pendidikan indonesia. Kami juga para guru memandang dengan sudut pandang yang berbeda.

Kamis, 25 September 2014
Dikamar 17.02
Setelah Pulang Sekolah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s