Idealis & Realistis menilai masa lalu

PTerlalu sering orang dihantui oleh masa depanya. Masa depan yang terus menjadi bayangan yang mengikuti gerak langkahnya. Masa depan yang sering jadi patokan bagi orang untuk menilainya. Namun banyak juga yang mendapatkan masa lalu yang mengikutinya tapi bukan sebagai hantu, akan tetapi sebagai malaikat yang membuatnya dihargai dan dipertimbangkan dalam segi apapun. Itu adalah lumrah. Setiap orang di bumi ini mempunyai masa lalu yang menghantuinya dan juga masa lalu yang menjadi malaikat baginya. Semua tergantung kepada diri kita sendiri atau orang yang memandangnya. Jika kita menggingat hal baik tentang kita dimasa lalu, maka kita layak untuk dipertimbangkan. Akan tetapi jika kita atau orang lain lebih fokus kepada masa lalu kita yang kelam maka tidak ada yang akan tampak dari diri kita kecuali cermin kelam yang membuat wajah kita menjadi lebih jelek dari biasanya, membuat perbuatan kita lebih keji dibandingkan yang lainnya dan juga akan membuat semua hal bagus dalam diri kita terhapus dari catatan hidup kita.

Kita tidak berbicara bagaimana pandangan Allah disini. Karena jelas Allah tidak pernah melihat kita dari masa lalu kita yang sudah kita tinggalkan, tidak juga dari kesalahan yang bukan kita perbuat, bahkan Allah tidak pernah melihat kepada kita sebagai hambanya selain dari Iman dan Taqwa kita kepadanya. Tapi kali ini kita berbicara tentang manusia yang sering mengunakan takaran yang salah untuk mengetahui apakah seseorang itu baik atau tidak. Jika kita berbicara masa lalu, bukankah orang seharusnya tidak hanya melihat dari sisi jeleknya, bukankah masi banyak lagi hal bagus dari masa lalu kita yang mungkin bisa diingat.

Baiklah. Kali ini akan aku berikan satu analogi yang mungkin membuat kita lebih mengerti. Anggaplah dulu aku adalah seorang penjahat yang sangat ditakuti seperti di film filem saat ini yang dengan mudah mengambil harta orang dan berkuasa layaknya raja di suatu daerah. Disamping aku adalah seorang penjahat yang ditakuti aku juga mendermakan banyak hartaku untuk membantu orang, membuat panti asuhan, membangun sekolah bagi daerah dimana aku tinggal. Dan beberapa tahun yang lalu aku sudah bertobat dan memperbaiki semua kesalahanku. Sehingga sekarang ini aku hanyalah seorang pemuda biasa. aku tau ini sangat jarang terjadi, tapi jika kondisi ini betul ada dalam kisah kehidupan nyata, apakah kita akan melihat sisi jahatnya atau sisi baiknya saat ini?. Apakah kita akan ketakutan karena masa lalunya, atau kita akan menjadi orang yang berteman seperti biasa karena kita tau bahwa dalam hidupnya ada juga cahaya yang patut kita hargai?. Percayalah idealisnya kita memang tidak menilainya dari apa yang dia lakukan dulu, tapi kita lihat dari bagaimana dia sekarang. Tapi dalam dunia nyata, idealis itu sulit ditemukan. Bukan salah bagi mereka yang menilai sisi kelam ku dalam analogi ini, karena orang juga butuh jaminan supaya bisa memastikan apakah bersama kita tidak merugikanya. Dan it lumrah.

Contoh diatas adalah jika kesalahan itu kita perbuat sendiri. Bagaimana dengan kesalahan yang sama sekali tidak kita perbuat atau lebih tepatnya orang lain melakukannya sehingga kita adalah efek dari kesalahan itu. Apakah kita juga akan menilainya buruk hanya karena dia merupakan bagian dari kesalahan tersebut. Aku berikan analogi yang mungkin lebih mudah kita mengerti. Seorang anak lahir dari pasangan yang tidak sah dalam islam. Anak yang lahir itu kini telah menjadi seorang anak yang dewasa, belajar di sekolah agama, tau mana hak dan yang bathil dan sekarang sedang berjuang untuk hidupnya karena dia juga sadar bahwa masa lalunya tidak begitu indah untuk dikenang. Pertanyaanya. Apakah kita akan melihatnya sebagai anak yang normal yang memiliki kesempatan yang sama dengan orang lain, atau sebaliknya kita melihat dia seperti orang yang sama seperti ayahnya lakukan. Yaitu tidak bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan padahal pada kenyatannya dia bahkan tidak pernah tinggal bersama ayahnya itu lebih dari 3 jam?. Jika kita melihatnya adalah anak yang sama seperti anak yang lainnya itu adalah pandangan idealis. Namun jika kita melihatnya sebagai anak yang mempunyai masa lalu yang kelam itu adalah pandangan realistis. Sehingga tidak ada yang perlu disalahakan. Orang yang melihat tidak bisa disalahkan, si anak juga tidak bisa disalahkan tidak ada yang salah disitu.

Manusia cinderung paranoid kepada masa depan sehingga membuat kita selalu melihat sisi “kiri” dari seseorang padahal pada nyatanya dia mempunyai dua sisi, yaitu “kanan” dan “kiri”. Pesan untuk orang yang menilai. Bukankah lebih baik lagi jika kita menggunakan takaran yang pas untuk mengukur sesuatu. Bukankah untuk mengukur berat kita tidak bisa menggunakan meter. Jadi kenapa untuk mengukur baik atau buruknya kita melihat masa lalunya yang bahkan bukan kesalahanya. Kenapa tidak kita lihat saja kehidupannya sekarang. Umar r.a pernah berkata bahwa untuk menilai seseorang lihatlah dari dua pihak. Pihak yang menyukainya dan pihak yang membencinya. Umar r.a tidak mengatakan untuk menilai seseorang lihatlah dari masa lalunya yang bahkan disa sendiri tidak melakukannya.

Memang betul kata orang. Buah akan jatuh tidak jauh dari batangnya. Tidak bisa kita artikan dengan analogi yang kedua tadi. Karena dalam perumpamaan itu. Buah adalah anak, dan batang itu adalah orang yang membesarkannya. Bukan yang hanya meminjamkan benihnya saja. Jika diartikan secara spesifik maka arti yang sebenarnya bukanlah  “anak tidak akan jauh perangainya dari orang yang melahirkannya”, tapi “anak tidak akan jauh perangainya dari orang yang membesarkannya”.

Dan bagi mereka yang mempunyai masa lalu yang kelam. Buktikan saja kalau penilaian itu salah. Salah jika orang menilai kamu dari sudut yang sama sekali tidak menggambarkan kamu. Bagaimana caranya?. Cukup dengan bekerja dan berusaha supaya kamu tetap baik dengan alasan apapun. Dan jangan biarkan masa lalu itu menghantuimu.

07.24 19 Januari 2015
DiKOntrakanSelesaiShalatSubuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s