Rutinitas ini membunuh ku

moon-faceSembari duduk di kamar kecil ini aku ingin mengutarakan rasa gundah ini melalui tulisan. Entah mungkin ada seseorang diluar sana yang mengerti yang kurasakan saat ini. seharian ini aku terus memikirkan tentang apa yang kulakukan dalam keseharian ku. Terasa ada rasa jenuh. Ya rasa jenuh yang sekarang ini terasa bergelut di kepala ini. seakan rasa jenuh itu menutupi kinerja otak dan pikiran saya untuk bekerja. Kehidupan yang sekarang aku lalui persis seperti robot yang telah di program sedemikian rupa untuk melakukan rutinitas mingguan tanpa bisa berbuat diluar apa yang sudah di program kan. Tidak sedetikpun hari ini terlewatkan olehku tanpa berpikir betapa menyedihkanya hidup seperti ini. rasanya bukan ini yang ku cari didalam hidupku. Apakah sudah jelas semenjak 1991 ketika aku dilahirkan ini merupakan tujuan saya dilahirkan ke bumi. Untuk bekerja seperti robot?, atau untuk menjalani rutinitas yang terkadang membosakan itu?.

Aku teringat bahwa didalam Al-quran sudah dijelaskan bahwa aku, kamu, dan mereka yang hidup di bumi ini dilahirkan guna untuk sebuah misi. Yaitu beribadah kepada Allah. Aku mengerti benar bahwa ibadah yang dimaksud disini bukan hanya ibadah ritualitas yang diperintahkan. ibadah yang dimaksud jauh lebih besar dari itu. Hal yang kita lakukan dengan niat Lillahita’ala dan atas nama kebaikan, maka itu disebut ibadah dalam islam. Kini permasalahanya adalah saat diamana aku membenci rutinitas. Aku sudah bertahan beberapa tahun untuk ini. tapi rasanya sekarang aku berada di ambang titik jenuh yang tak bisa dikendalikan lagi. Itulah sebab kenapa pikiran ini begitu sembraut.

Ada pertanyaan kecil yang mengganjal dihati disaat melihat orang melakukan rutinitas yang sama di jam yang sama selama bertahun-tahun tanpa ada sedikitpun keluhan yang keluar dari pembicaraannya. Hebat sekali orang-orang yang seperti ni. Tapi  bagiku, itu rasanya seperti ada sebuah rantai besi besar yang mengikat kakiku. Aku tak bisa pergi, aku tak bisa keluar dari jalur rutinitas yang telah tertulis bagiku.

Aku mengerti betul bahwa aku dilahirkan di muka bumi ini untuk beribadah kepada Allah, oleh karen itu aku sebisanya tidak pernah meninggalkan perintahnya dan bekerja untuk kehidupanku, keluargaku, dan orang disekitarku kare aku mengerti sepenuhnya bahwa setiap yang kulakukan untuk tujuan yang baik adalah ibadah. Jika ibadah dilakukan dengan ikhlas tanpa paksaan dari manapun maka sebutan ibadah pantas untuk disematkan didalam kegiatan itu. Namun bagaimana jikalau rutinitas yang kita sebut ibadah tersebut malah menjauhkan kita dari Nya, apakah masih layak jika rutinitas itu kita sebut ibadah. Rasanya tidak tepat jika itu disebut ibadah. Bukankah begitu?.

Apakah ini adalah pertanda dimana saya harus mencari kegiatan yang tidak terikat dengan rutinitas dan jadwal. Apakah aku harus mencari kegiatan dimana itu mendekatkanku kepada Allah dan meninggalkan semua ini. jika itu kulakukan maka besar kemungkinan aku akan semakin jauh dari cita-citaku. Aku akan semakin jauh dari persiapan masa depan yang sudah kurancang sedemikian rupa. Hemmm entah apa yang kurasakan saat ini. takut, bosan, benci, optimistik dan pesimistik bercampur menjadi satu didalam pikir ini.

Apa yang harus kulakukan?.

Di Meja Belajar Kamar Tidur
20.14 WIB
Rabu, 11 Nopember 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s