Berjasalah Tapi Jangan Minta Jasa

guru1Falsafah ini merupakan starting point dari keikhlasan. Banyak sekarang yang mengatakan bahwa usaha yang anda kerjakan haruslah sepadan dengan hasil yang anda dapatkan. Hal ini didasari oleh prinsip timbal balik simbiosis mutualism yang selama ini dipercaya sebagai prinsip keseimbangan dan keadilan. Kewajiban haruslah sepadan dengan hak yang anda dapatkan. Begitulah prinsip hidup kita semakin lama semakin menjauh dari kata-kata ikhlas, karena pada saat sekarang ini orang mengukur segala sesuatunya dengan numerik yang dilihat secara kasat mata. Misalkan disaat seseorang berhasil maka yang dilihat dari manusia adalah seberapa besar hasil dari keberhasilan tersebut, berapa banyak mereka yang gagal, apakah keberhasilan anda menghasilkan suatu materi.

Hal ini disebabkan oleh sifat manusia yang matrialistis yang membuat manusia tidak ingin rugi. Banyak yang berkata Seberapa yang diberikan sebesar itulah seharusnya yang didapat. Karena jika hanya memberi tanpa menerima, secara matematik kita telah memberikan sesuatu tanpa menerima dan hasilnya hanyalah kerugian yang kita dapatkan. Falsafah ini hadir sebagai ungkapan bahwa menjadi manusia yang penuh dengan keikhlasan dalam berbuat itu jauh lebih baik dibandingkan menjadi manusia yang menghitung segalanya dengan hitungan angka, jumlah, maupun untung rugi.

Berjasa adalah kata yang sangat normatif yang menunjukkan keikhlasan dalam segala hal. Jika seseorang berjasa maka akan ada yang dikenang yaitu jasa nya. dimata manusia, kata jasa sangat bertentangan dengan sifat hitung-hitungan manusia, karena jasa adalah gambaran tindakan dimana seseorang memberi tanpa berharap sesuatu dari pemberian itu. Jasa juga dapat digambarkan dengan usaha yang dilakukan untuk kepentingan orang lain dengan ikhlas. Misalkan saja jasa guru. Profesi guru disebut sebagai jasa karena yang diberikan tidak sebanding dengan apa yang didapat oleh guru tersebut. Jasa orang tua. Orang tua memberikan cinta, kasih, sayang tanpa mengharapkan balasan dari anaknya. Itulah jasa. Kesucian jasa tidak seharusnya dinodai. Pertanyaanya, apa yang bisa menodai jasa?.

Kemurnian jasa akan tercemar disaat tidak lagi terdapat unsur keikhlasan didalamnya. Singkatnya, jika jasa dicampur adukkan dengan konsep timbal-balik (Hak dan kewajiban) maka jasa bukanlah jasa lagi. Oleh karena itu falsafah ini menegaskan untuk menjaga kemurnian jasa. Jangan menodainya dengan meminta sesuatu sebagai balasan baik itu materi ataupun pujian. “Berjasa tanpa minta jasa” dapat diutarakan dengan kalimat lain namun mempunyai makna yang sama yaitu “Berjasa dan jangan nodai jasamu”.

Sebagai seorang yang beriman sepatutnya kita percaya dengan sepenuh hati jika disaat kita memberikan sesuatu tanpa mengharapkan dibalas dengan barang ataupun pujian, maka Allah SWT akan memberikan balasan atas keikhlasan itu yang jauh lebih baik dari apa yang diberikan oleh manusia. pertanyaannya. Kenapa kita masih menginginkan sesuatu dari manusia sebagai apresiasi atas apa yang kita lakukan disaat kita sepenuhnya mengerti bahwa yang Allah persiapkan untuk kita jika kita ikhlas jauh lebih baik.

Berjasalah, tapi jangan minta jasa.
Let it be your work, and let it be forgotten.
let it be you effort, and let Allah prepares the reward in return.
Let it be your help, and don’t let riya be on your way.

4 Juni 2016 23.00 WIB
Sudah Lama Tidak Menulis
Warkop Rawa Utama
Banda Aceh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s